Pembayaran Digital

57 Juta Pengguna QRIS di Semester I 2025: Apa Artinya untuk Warung, Kedai, dan Cafe Kecil?

Bank Indonesia mencatat QRIS telah menjangkau 57 juta pengguna dan 39,3 juta merchant sampai Semester I 2025. Pertanyaannya bukan lagi perlu atau tidak, tapi bagaimana UMKM memanfaatkannya tanpa membuat operasional jadi berantakan.

K

Tim KOSTPOS

06 Apr 20267 menit

QRIS Sudah Jadi Kebiasaan, Bukan Fitur Tambahan

Bank Indonesia mencatat bahwa sampai Semester I 2025, QRIS telah menjangkau 57 juta pengguna dan 39,3 juta merchant. Dari jumlah merchant tersebut, 93,16% di antaranya adalah UMKM. Ini artinya QRIS sudah benar-benar masuk ke pasar usaha kecil, bukan lagi fitur yang hanya dipakai brand besar.

Buat warung, kedai, dan cafe kecil, data ini penting karena menunjukkan bahwa perilaku bayar pelanggan berubah cepat. Pelanggan makin terbiasa scan, lalu selesai. Kalau usaha belum siap, yang repot bukan pelanggan saja, tapi juga owner yang harus mengecek mutasi dan mencocokkan transaksi satu per satu.

Tantangan Sebenarnya Bukan Aktivasi QRIS

Banyak UMKM merasa selesai setelah QRIS aktif. Padahal masalah terbesar muncul setelah itu, yaitu pengelolaan transaksi.

Tiga masalah yang paling sering terjadi adalah:

  • order masuk tetapi metode bayar tidak tercatat dengan rapi,
  • kasir lupa menandai transaksi sudah lunas,
  • owner sulit membedakan omzet tunai dan non-tunai.

Jadi, menerima QRIS itu baru langkah pertama. Langkah berikutnya yang jauh lebih penting adalah menghubungkan pembayaran tersebut dengan proses kasir dan laporan usaha.

Apa Arti 39,3 Juta Merchant untuk Persaingan UMKM

Kalau merchant QRIS sudah puluhan juta, maka pelanggan akan menganggap pembayaran digital sebagai hal yang normal. Ini menciptakan standar baru di level UMKM:

  • pembayaran harus cepat,
  • tidak boleh bikin antrean lama,
  • dan transaksi harus langsung tercatat.

Warung atau kedai yang masih mengandalkan rekap manual berisiko tertinggal, bukan karena produknya jelek, tapi karena pengalaman transaksinya kalah praktis.

Kapan QRIS Mulai Memberi Nilai Tambah

QRIS baru benar-benar memberi nilai tambah kalau transaksi yang masuk bisa dibaca sebagai data bisnis. Owner perlu tahu:

  • berapa transaksi QRIS per hari,
  • kapan jam paling ramai,
  • apakah pelanggan QRIS lebih banyak saat promo,
  • dan apakah ada transaksi yang masuk ke bank tapi belum ditandai selesai di kasir.

Kalau semua itu masih dicek manual lewat mutasi, QRIS justru menambah beban operasional.

Peran POS di Sini

Sistem POS seperti KOSTPOS dibutuhkan untuk menjembatani pembayaran digital dan pencatatan usaha. Dengan begitu, QRIS bukan cuma jadi metode bayar, tapi menjadi bagian dari sistem operasional yang utuh.

Owner bisa lebih cepat melihat omzet, kasir lebih mudah menutup shift, dan data penjualan tidak tercecer antara struk, chat, dan rekening.

Kesimpulan

Data Bank Indonesia memperlihatkan bahwa QRIS sudah dipakai luas oleh pengguna dan merchant, dan mayoritas merchant-nya adalah UMKM. Artinya, usaha kecil tidak lagi berada di fase coba-coba. Mereka sudah masuk fase optimasi.

Bagi UMKM yang ingin lebih rapi, fokus berikutnya bukan sekadar menerima QRIS, tetapi memastikan transaksi QRIS langsung tercatat, mudah diaudit, dan otomatis masuk ke laporan harian.

Referensi Resmi

Siap Mengelola Bisnis dengan Lebih Efisien?

KOSTPOS membantu UMKM mengelola transaksi, stok, dan laporan usaha dengan lebih rapi.

Daftar Gratis Sekarang